Friday, 17 April 2015

PERINGATAN HARI KELAHIRAN NABI DALAM PEMAHAMAN ULAMA “SALAFI” DAN ULAMA TERDAHULU


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wr wb

Pandangan Ibn Taymiyyah tentang Maulid dan Penyimpangan Kaum Salafi dari Pandangannya (Kutipan berikut merupakan pandangan Ibn Taymiyyah tentang maulid sebagaimana diuraikan dalam kitabnya, al-Fatâwâ:26)


Demikian halnya apa yang diada-adakan oleh sebagian orang dengan menganalogikan pada orang-orang Nasrani yang merayakan kelahiran Isa, atau karena rasa cinta kepada Nabi saw dan untuk memujanya, Allah swt akan memberi mereka pahala atas cinta dan usahanya ini, bukan atas kenyataan bahwa itu suatu bidah … Merayakan dan menghormati kelahiran Nabi saw dan menjadikannya sebagai saat-saat yang dihormati, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, adalah baik, dan padanya ada pahala yang besar, karena niat baik mereka dalam menghormati Nabi saw.

Karena kesetiaan mereka kepada Ibn Taymiyyah, tampaknya kaum Salafi tidak dapat memaafkannya atas ucapannya ini.  Seorang editor majalah kaum Salafi, Iqtidhâ’, Muhammad al-Fiqqî, menulis dua halaman catatan kaki untuk teks tersebut.  Di dalamnya ia berteriak keras, “Kayfa yakûnu lahum tsawâb ‘alâ hâdza? … Ayyu ijtihâd fî hâdzâ??  (Bagaimana mungkin mereka dapat memperoleh pahala untuk hal tersebut? … Ijtihad macam apa ini??)”  Para ulama Salafi kontemporer bisa dikatakan berlebihan dan menyimpang menyangkut peringatan maulid ini.  Mereka mengganti sikap Ibn Taymiyyah tersebut dengan ketetapan hukum mereka sendiri, padahal sikap Ibn Taymiyyah tersebut mestinya cukup buat mereka.  Pengarang Salafi yang lain, Manshûr Salmân, juga bersikap demikian dalam menerangkan al-Bâ‘its ‘alâ Inkâr al-Bida‘ karya Abû Syâmah, karena Abû Syâmah bukannya mengkritisi peringatan maulid, tetapi justru menyatakan, “Sungguh itu suatu bidah yang patut dipuji dan diberkati.”

Dalam teks yang disebutkan di atas, Ibn Taymiyyah juga menyebutkan suatu fatwa oleh Ahmad ibn Hanbal, imamnya mazhab fikih Ibn Taymiyyah, tatkala orang-orang bercerita kepada Imam Ahmad mengenai seorang pangeran yang membelanjakan 1000 dinar untuk membuat hiasan Alquran, beliau mengatakan: “Itulah tempat terbaik baginya untuk menggunakan emas.”

Apakah Ibn Taymiyyah sedang mempromosikan bidah tatkala beliau membolehkan peringatan maulid “sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang”?  Tidak. Beliau tidak hanya membolehkannya, tetapi beliau menyebutkan pula bahwa peringatan maulid yang mereka lakukan itu “baik dan padanya ada pahala”.  Apakah Imam Ahmad sedang melakukan suatu bidah tatkala beliau membolehkan menghiasi Alquran dengan emas?  Jawaban atas kedua pertanyaan tersebut adalah tidak.

Pembolehan peringatan hari kelahiran Nabi saw. oleh Ibn Taymiyyah ini, yang oleh para pendukungnya telah diartikan secara keliru sebagai suatu kritik atas peringatan maulid, telah disebut-sebut oleh para ulama Suni seperti Sa‘îd Hawwâ, Muhammad ibn ‘Alawî al-Mâlikî, ‘Abd al-Karîm Jawwâd, al-Sayyid Hâsyim al-Rifâ‘î, dan dua syekh dari golongan Qarawiyyin, yaitu ‘Abd al-Hayy al-Amrûnî dan ‘Abd al-Karîm Murâd.27

Pendapat Ibn Taymiyyah tentang Halaqah Zikir

Berikut adalah pandangan Ibn Taymiyyah mengenai pertemuan-pertemuan untuk berzikir bersama: Ibn Taymiyyah pernah ditanya mengenai orang-orang yang berkumpul di dalam masjid untuk berzikir dan membaca Alquran, berdoa kepada Allah, membiarkan kepalanya terbuka tanpa turban dan menangis, padahal niatnya bukanlah untuk ria, juga bukan untuk pamer, tetapi berusaha mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt semata: apakah itu dibolehkan atau tidak?  Beliau menjawab: “Segala puji bagi Allah swt, adalah baik dan dianjurkan oleh syariah, untuk berkumpul bersama membaca Alquran, membaca zikir, dan berdoa.”28

Ibn Katsîr Memuji Malam Maulid

Imam Ibn Hajar al-‘Asqalânî menyebutkan bahwa Ibn Katsîr, seorang ahli hadis pengikut Ibn Taymiyyah, “pada hari–hari terakhir hidupnya menulis sebuah kitab berjudul Mawlid Rasûl Allâh yang tersebar luas.29 Kitab tersebut menyebutkan kebolehan dan anjuran memperingati maulid Nabi saw.”30

Dalam kitab Ibn Katsîr tersebut, ia mengatakan, “Malam kelahiran Nabi saw. adalah malam yang agung, mulia, diberkati, dan suci, suatu malam yang membahagiakan bagi orang-orang beriman, bersih, bersinar cemerlang, dan tak ternilai harganya.”31

Fatwa al-‘Asqalânî dan al-Suyûthî tentang Kebolehan Memperingati Maulid Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasalam.

Jalâl al-Dîn al-Suyûthî berkata: 
Syekh-Islam, seorang tokoh hadis pada masanya, Ahmad ibn Hajar (al-‘Asqalânî) pernah ditanya mengenai kebiasaan memperingati kelahiran Nabi saw.  Beliau memberikan jawaban sebagai berikut:

Sehubungan dengan asal muasal dari kebiasaan memperingati kelahiran Nabi saw, itu merupakan suatu bidah yang kita tidak menerimanya dari para saleh di antara kaum muslim terdahulu pada masa tiga abad pertama Hijriah. Meskipun demikian, praktik tersebut melibatkan bentuk-bentuk yang terpuji dan bentuk-bentuk yang tak terpuji.  Apabila dalam praktik peringatan tersebut, orang-orang hanya melakukan hal-hal terpuji saja, dan tidak melakukan yang sebaliknya, maka itu bidah yang baik, tetapi bila tidak demikian, maka tidak.

Dalil dasar dari nas yang bisa dipercaya untuk merujuk keabsahannya telah saya temukan, yaitu suatu hadis sahih yang dimuat dalam kumpulan Shahîh al-Bukhârî dan Shahîh Muslim, bahwa Nabi saw. datang ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal sepuluh Muharam (Asyura), maka beliau bertanya kepada mereka tentang hari itu dan mereka menjawab: “Hari ini adalah hari Allah swt menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa a.s., maka kami pun berpuasa untuk menyatakan syukur kepada Allah Taala.” 

Dalil ini menunjukkan keabsahan berterima kasih kepada Allah swt atas karunia-Nya yang diberikan pada suatu hari tertentu, baik dalam bentuk pemberian nikmat dan penghindaran dari bencana.  Kita mengulang rasa syukur kita dalam peringatan hari tersebut setiap tahun, dengan menyatakan syukur kepada Allah swt dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, memberi sedekah atau membaca Alquran … Lantas, karunia apa lagi yang lebih besar daripada kelahiran Nabi saw., Nabi pembawa rahmat, pada hari ini?  Melihat kenyataan demikian, kita seharusnya memastikan untuk memperingatinya pada hari yang sama, sehingga sesuai dengan cerita tentang Musa a.s. dan tanggal sepuluh Muharam di atas.  Akan tetapi, orang yang tidak melihat persoalan ini penting, merayakannya pada hari apa saja dalam bulan itu, bahkan sebagian meluaskannya lagi pada hari apa saja sepanjang tahun,  pengecualian apa pun dapat diambil dalam pandangan semacam ini.”32

Pandangan Ulama Terdahulu tentang Maulid

Dalam pandangan mufti Mekah, Ahmad ibn Zaynî Dahlân, “Memperingati hari kelahiran Nabi saw. dan mengingat Nabi saw. itu dibolehkan oleh ulama muslim.”33

Imam al-Subkî mengatakan, “Pada saat kita merayakan hari kelahiran Nabi saw, rasa persaudaraan yang kuat merasuk ke hati kita, dan kita merasakan sesuatu yang khas.”

Imam al-Syawkânî mengatakan, “Dibolehkan merayakan hari kelahiran Nabi saw.”34  Beliau pun mengatakan bahwa Mulah ‘Alî al-Qârî memiliki pandangan yang sama dalam kitabnya, al-Mawrid al-Râwî fî al-Mawlid al-Nabawî, yang ditulis secara khusus untuk mendukung perayaan hari kelahiran Nabi saw.

Imam Abû Syamah, guru Imam al-Nawawî, berkata:
Bidah yang paling baik pada masa kita sekarang ini adalah peringatan hari kelahiran Nabi saw.  Pada hari tersebut orang-orang memberikan banyak sumbangan, melakukan banyak ibadah, menunjukkan rasa cinta yang besar kepada Nabi saw., dan menyatakan banyak syukur kepada Allah Swt. karena telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka, untuk menjaga mereka agar mengikuti sunah dan syariah Islam.35

Imam al-Syakhawî mengatakan, “Peringatan hari kelahiran Nabi saw. dimulai pada tiga abad setelah Nabi saw. wafat.  Seluruh muslimin merayakannya dan seluruh ulama membolehkannya, dengan cara beribadah kepada Allah swt, bersedekah, dan membaca riwayat hidup Nabi saw.”

Hafiz Ibn Hajar al-Haytsamî mengatakan, “Sebagaimana orang-orang Yahudi merayakan Hari Asyura dengan berpuasa untuk bersyukur kepada Allah swt, kita pun mesti merayakan maulid.”  Beliau pun mengutip hadis yang telah disebutkan di depan, “Tatkala Nabi saw. tiba di Madinah …”  Ibn Hajar kemudian melanjutkan:

(Selayaknya) orang bersyukur kepada Allah swt atas rahmat yang telah Dia berikan pada suatu hari tertentu, baik berupa kebaikan yang besar ataupun keterhindaran dari bencana.  Hari tersebut dirayakan setiap tahun setelah peristiwa itu.  Ungkapan syukur terlahir dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, sedekah, dan membaca Alquran.  Lantas, kebaikan apa lagi yang lebih besar dari kedatangan Nabi saw., seorang Nabi penebar rahmat, pada hari maulid?

Ibn al-Jawzî (w. 579) menulis sebuah buku kecil yang berisi syair dan riwayat hidup Nabi saw untuk dibacakan dalam perayaan maulid.  Buku itu berjudul Mawlid al-‘Arûs,36 dan beliau membuka dengan kata-kata, “Al-hamd li Allâh al-ladzî abraza min ghurrat ‘arûs al-hadhrah shubhan mustanîrah (Segala puji bagi Allah swt yang telah mengeluarkan dari pancaran cahaya hadirat-Nya pagi hari yang semburat dengan sinar cemerlang).”

Dianjurkan untuk Memperingati Maulid

Imam al-Suyûthî mengatakan:
Alasan berkumpul untuk salat tarawih adalah sunah dan merupakan suatu cara mendekatkan diri kepada Allah … demikian juga kami katakan bahwa alasan berkumpul untuk memperingati maulid adalah dianjurkan (mandûb) … dan merupakan tindakan medekatkan diri kepada Allah … dan niat merayakan kelahiran Nabi saw adalah baik (mustahsanah) tanpa keraguan lagi.37

Imam al-Suyûthî melanjutkan: 
Tentang kebolehan maulid, saya ambil dasar hukumnya dari sumber sunah yang lain (di samping hadis tentang Asyura yang dijadikan dasar oleh Ibn Hajar), yaitu hadis yang ditemukan dalam karya al-Bayhaqî, yang diriwayatkan oleh Anas, “Nabi saw. menyembelih aqiqah untuk dirinya sendiri setelah beliau menerima kenabian,” meskipun telah disebutkan bahwa kakeknya, yaitu ‘Abd al-Muthâlib telah melakukannya pada hari ketujuh setelah kelahirannya, padahal aqiqah tidak dapat diulangi.38 Oleh karena itu, alasan bagi tindakan Nabi saw tersebut adalah untuk menyatakan syukur kepada Allah karena telah mengutusnya sebagai rahmat seluruh alam, dan menyatakan penghargaannya kepada umatnya, sebagaimana halnya beliau suka melakukan salat untuk dirinya sendiri.  Oleh karena itu, juga dianjurkan kepada kita untuk menyatakan rasa syukur kita atas kelahirannya dengan berkumpul bersama saudara-saudara kita, memberi makan orang-orang, dan perbuatan baik lain, serta bergembira.39.

Hadis ini menguatkan hadis di muka tentang bagaimana Nabi saw. menaruh perhatian khusus terhadap hari Senin sebagai hari kelahiran dan kenabiannya.

Penegasan Para Penulis “Salafi” Kontemporer perihal Larangan Maulid

Klaim bahwa memperingati maulid itu suatu bidah bukan saja langkah mengada-ada yang menyimpang dari apa yang telah dikatakan mayoritas ulama tempo dulu mengenai hal tersebut.  Pertama-tama, dan terutama, klaim tersebut mengandung cacat, baik dari sisi logika maupun penalarannya, karena ulama telah menetapkan bahwa bidah ada yang baik, ada yang buruk, dan ada yang biasa saja.  Karena itu, tidaklah boleh melarang sesuatu semata atas dasar anggapan bahwa itu suatu bidah (kreasi baru) sebelum terlebih dulu menentukan termasuk bidah apakah hal itu.

Ada bid‘ah hasanah (bidah yang baik), menurut mayoritas ulama yang telah menulis tentang bidah, meskipun beberapa ulama, seperti Ibn al-Jawzî dan Ibn Taymiyyah, beranggapan bahwa semua bidah pastilah bidah sesat (bid‘ah dhalâlah). Kedudukan mereka dalam masalah ini adalah suatu kelainan (syâdzdz) dan menyimpang dari norma, sebagaimana bukti-bukti berikut menunjukkan:

1.      Harmalah ibn Yahyâ berkata: “Saya mendengar al-Syâfi‘î berkata: ‘Al-bid‘ah bid‘atâni bid‘ah mahmûdah wa bid‘ah madzmûmah, fa mâ wâfaqa al-sunnah fa huwa mahmûd, wa mâ khâlaf al-sunnah fa huwa madzmûm (Bidah itu dua jenis: bidah terpuji dan bidah tercela.  Apa yang sesuai dengan sunah adalah terpuji, dan yang bertentangan dengan sunah adalah tercela.’”40

2.      Hafiz al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salâm berkata: Ada lima tipe bidah: yang dilarang (haram), yang tak disukai (makruh), yang dibolehkan (mubah), yang terpuji (mandûb), dan yang harus (wajib).41 

3.      Ulama lain yang mengakui kemungkinan adanya yang disebut bidah yang baik (bid‘ah hasanah) adalah: 
Abû Syamah, yang membagi bidah ke dalam bid‘ah mustahsanah/hasanah (bidah yang dianggap baik) dan bid‘ah mustaqbahah (bidah yang dianggap buruk), yang terbagi ke dalam muharram (dilarang) dan makruh (tak disukai), pada sisi lainnya.42

Al-Turkumanî al-Hanafî, yang membagi bidah menjadi bid‘ah mustahsanah (dianggap baik), yaitu bidah yang mubâhah yutsâbu ‘alayhâ (bidah yang dibolehkan dan mendapatkan pahala), dan bid‘ah mustaqbahah (dianggap buruk), seperti yang makruh dan yang haram.43


ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

WALLAHUALAM BISSAWAB

13 Keutamaan dan Keistimewaan Ibadah Haji




Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wr wb

  1. Ibadah haji dapat menghapus dosa-dosa kecil dan besar yang
    terjadi sebelum berhaji.
  2. Melaksanakan haji berpahala jihad.
  3. Orang yang pergi haji adalah tamu Allah. Apapun
    permintaannya akan
    dikabulkan. Biaya hajinya oleh Allah diganti.
  4. Orang yang berhaji doanya terkabulkan sampai selesai pelaksanaan haji. Jadi, jika melaksanakan haji selama 1 bulan, maka selama itu juga doanya maqbul, berkat tujuan hajinya.
  5. Biaya yang digunakan berhaji laksanan pahala membiayai perang fi sabilillah, dengan nilai yg dilipatkan 700 kali.
  6. Biayanya setara dengan 40 juta dirham dalam 1dirhamnya. Bisa dibilang, dalam 1 jutanya bernilai 40 juta pengeluaran untuk niat baiknya. Sedangkan pahalanya dilipatkan 700 kali.
  7. Pengeluaran uang yang digunakan haji tidak akan membuat miskin, juteru akan semakin bertambah.
  8. Orang berhaji selalu mendapatkan pertolongan dari Allah, seperti perajurit perang fi sabilillah, suami istri alias, dan budak mukatab.
  9. Orang berhaji bisa memberikan syafaat kpd 400 keluarganya.
  10. Orang berhaji mendapatkan ampunan dari Allah, walaupun orang yang zhalim.
  11. Orang berhaji diampuni begitu juga orang yang dimohonkan ampunannya kepada Allah. Waktu yang bisa memohonkan ampunan untuk orang lain berlaku sampai bulan muharram, shafar, dan 10 hari bulan rabi’ul awal. Oleh karena itu, kunjungilah orang yang baru datang haji untuk meminta doanya, agar terkabulkan.
  12. Orang-orang yang berhaji ketika di Arofah oleh Allah dibangga-banggakan kepada para malaikat. Jika demikian, sudah tentu keluar dari Arofah dosanya telah diampuni. Secara logika, Allah tidak akan membagakan orang yang masih memiliki dosa kan, tapi yang punya hutang tetap wajib dilunasi loh, yaaa!!!
  13. Orang berhaji adalah ahli surga, tanpa diragukan, tapi jika setelah haji mengerjakan dosa lagi, itu masuk dalam catatan baru. Artinya, yangg lalu tidak usah dipikirkan, tapi yang akan datang harus dijaga.

    ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

    WALLAHUALAM BISSAWAB

Kisah Syaitan Khannas dan Nabi Adam

Bismillahirrahmanirrahim

assalamualaikum wr wb

Kisah Syaitan Khannas dan Nabi Adam

Syaitan sememangnya tidak pernah mengenal putus asa untuk menghancurkan anak cucu Adam.........

Suatu hari Iblis laknatullah membawa anaknya yang bernama Khannas menuju ke rumah Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Ketika itu, Nabi Adam AS baru saja meninggalkan rumah untuk pergi mencari nafkah. Maka tinggallah Siti Hawa keseorangan di rumah. Tiba-tiba, pintu rumahnya diketuk, lalu dibuka oleh Siti Hawa, lalu dia bertanya: “Siapa kamu?” Lalu Iblis menjawab: “Tolong jagakan anak saya, nanti saya akan datang untuk ambil dia balik.” ....

Siti Hawa yang mempunyai sifat keibuan dan tidak mengetahui muslihat Iblis laknatullah terus memberi pertolongan. Apabila Nabi Adam AS pulang, baginda terperanjat lalu bertanyakan Siti Hawa: “Anak siapakah ini?” Lalu Siti Hawa menjawab: “Tak tahulah, tadi ada seorang wanita menyuruh kita menjaga anak ini.” Nabi Adam AS berfikir dan berkata: “Ini tentu anak syaitan yang mahu menganggu anak cucu kita…” “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Siti Hawa pada Nabi Adam AS. Setelah agak lama berfikir, Nabi Adam AS menjawab: “Kita potong-potong badannya sehingga kecil dan kita gantungkan daging-dagingnya di pokok luar rumah kita. Nanti apabila ibunya datang biar dia nampak dan tahulah dia anak nya sudah tidak ada…”....

Keesokan pagi, Iblis pun datang lagi ketika Nabi Adam AS sudah keluar bekerja: “Mana anak aku?” tanya Iblis pada Siti Hawa. Siti Hawa pun dengan terus terang memberitahu apa yang telah meraka berdua lakukan terhadap anak syaitan tersebut: “Semalam Adam pulang ke rumah, lalu ia mengetahui yang anak itu anak syaitan, lalu kami kerat2 anak kamu dan kami gantungkan daging-dagingnya di atas pokok di luar sana,” jelas Siti Hawa. “Oh… benarkah?” kata Iblis laknatullah dengan selamba. Lalu Iblis menyeru anaknya: “Khannasss….!!!” Tiba2 daging2 anaknya yang telah dikerat bergantungan di atas pokok itu pun bercantum kembali dan menjadi hidup kembali. Iblis masih tidak berputus asa dan masih meminta Siti Hawa agar menjaga Khannas malah dia berpesan akan kembali lagi esok harinya. ....

Apabila Nabi Adam AS pulang, baginda terkejut melihat anak Syaitan yang bernama Khannas itu masih hidup dan bertanya pada Siti Hawa kenapa anak syaitan itu masih berada di rumah meraka. Hawa menerangkan apa yang berlaku. “Kita tak boleh biarkan usaha syaitan untuk menganggu hidup anak cucu kita,” kata Nabi Adam. “Apa harus kita lakukan?” tanya Siti Hawa. “Beginilah.., kita bakar anak syaitan ini dan abunya kita buangkan ke laut, biar abunya di bawa arus laut, tentu ibunya tidak akan mendapat anaknya ini lagi…” terang Nabi Adam AS.....

Keesokan paginya datanglah Iblis bertanyakan anaknya ketika Nabi Adam AS sudah keluar bekerja. “Mana anak aku?” tanya Iblis. “Anak kamu sudah kami bakar dan abunya kami buang ke laut!” jawab Siti Hawa. “Oh, benarkah?" kata Iblis lalu sekali lagi menyeru anaknya: “Khannas!!!” Lalu bercantumlah kembali daging anaknya dari abu, dan menjadi Khannas kembali dan kemudian diserahkan kembali pada Siti Hawa untuk dijaga.....

Apabila Nabi Adam AS pulang, baginda mendapati anak syaitan itu masih juga berada di rumahnya. “Ini tak boleh jadi, kita tak boleh biarkan mereka ganggu anak cucu kita,” kata Nabi Adam. “Apa harus kita lakukan?” tanya Siti Hawa. “Begini sajalah…, kita belah dua anak syaitan ini. Kamu telan sebelah, aku telan sebelah. Habis cerita!” cadang Nabi Adam AS.....

Keesokan hari, datanglah lagi Iblis bertanyakan anaknya ketika Nabi Adam AS sudah keluar bekerja. “Mana anak aku?” tanya Iblis. “Kali ini kamu tak dapat balik anak kamu..,” jawab Siti Hawa dengan penuh yakin. “Kenapa?” tanya Iblis. “Anak kamu telah kami telan!” jawab Siti Hawa dengan tegas. “Oh, benarkah?" Lalu Iblis memanggil anaknya: "Khannas!!!" Tiba-tiba terdengarlah suara Khannas dari dalam badan Siti Hawa. “Bagus anakku, kamu duduk di sana, jangan sesekali keluar,” Iblis memberi arahan kepada anaknya. Maka duduklah Khannas di dalam tubuh badan manusia sehingga hari kiamat. ....

Syaitan Khannas ini tugasnya:-- Bila kita makan, dia pun makan, bila kita minum dia pun minum. Apa-apa sahaja aktiviti kita buat dia akan menyertainya jika kita tidak membaca BASMALAH (Bismillah).

Bila kita solat dia akan berusaha supaya kita berasa was-was. Sebab itulah kadang-kadang bila tengah bersolat, tiba-tiba sahaja kita lupa bilangan rakaat yang telah kita lakukan. Kadang-kadang bila buat kerja, kita keliru dan ingat-ingat lupa. Ubatnya banyakkan ISTIGHFAR (Astaghfirullah). Syaitan Khannas ini akan berlari / bermain dalam darah kita. Ubatnya ialah dengan membanyakkan ZIKIR.....

Sahabat Rasulullah SAW pernah bertanya bagaimana hendak mengelak dari Khannas ini. Pesan Rasulullah SAW, setiap apa yang hendak kita lakukan mulakanlah dengan membaca BASMALAH dan doa, atau sekurang-kurangnya bacalah BASMALAH. Khannas akan berasa kelaparan bila kita berpuasa dan akan menjadi bertambah kurus bila kita makan dengan membaca Basmalah. Bagi yang sudah menjadi Suami Isteri, sebelum 'bersama', bacalah BASMALAH dan doa-doa. Jika tidak, Khannas dan syaitan-syaitan yang lain akan ikut serta 'bersama'. ....

Lihatlah bagaimana syaitan yang tak pernah putus asa mahu memperdayakan anak cucu Adam. Dalam Surah An-Nas juga menceritakan syaitan bernama Khannas yang selalu berusaha membuat kita was-was. Apa-apa pun mulakan apa saja aktivitas dengan "BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM!".

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

wallahualam bissawab

Tuesday, 17 March 2015

ADAB BERTAMU DALAM ISLAM


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Pernahkah Anda kedatangan orang, yang masuk ke rumah Anda tanpa permisi alias slonongboy..???
Tetangga saya pernah mengalami itu. Dan itu ternyata sangat tidak menyenangkan, apa lagi yang selonongboy itu adalah berlainan jenis dengan sang tuan rumah. Maka sebagai wawasan untuk saya, saya mencari diberbagai sumber di internet. Kebetulan saya tidak punya buku tentang etika bertamu. Dan saya dapatkan beberapa sumber yang bisa menambah wawasan saya tentang etika bertamu. Dan saya coba rangkum intisari dari beberapa sumber tersebut.
Tamu harus dihormati sebagaimana perintah Rasulullah . Menghormati tamu adalah tanda kesempurnaan iman (HR. Bukhari).

Sebaliknya, tamu juga harus tahu diri agar tidak menempatkan tuan rumah dalam posisi serba salah, sehingga tidak bisa menghormati tamu dengan baik.
Alquran ataupun hadis yang menekankan pentingnya saling mengenal dan mempererat tali persaudaraan. Seperti tertera dalam Alquran, Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Al Hujurat: 13)

Rasulullah bersabda: “Bila seseorang mengunjungi saudaranya, maka Allah berkata kepadanya: “Engkau dan perjalananmu itu adalah baik, dan engkau telah menyiapkan suatu tempat tinggal di al jannah (surga).” (Shahih Al Adabul Mufrad no. 345, dari shahabat Abu Hurairah )

Akan tetapi, walaupun bertamu amatlah mulia dan bernilai ibadah, namun ada etika yang harus diperhatikan, baik oleh tamu ataupun sang tuan rumah. Sebagai agama yang sempurna, Islam telah menetapkan ketentuan yang bisa menjadi acuan seorang Muslim saat bertamu kepada saudaranya.
Etika untuk bertamu

1.Beri’tikad Yang Baik

Di dalam bertamu hendaknya yang paling penting untuk diperhatikan adalah memiliki i’tikad dan niat yang baik. Bermula dari i’tikad dan niat yang baik ini akan mendorong kunjungan yang dilakukan itu senantiasa terwarnai dengan rasa kesejukan dan kelembutan kepada pihak yang dikunjungi.

2.Beritahu Lebih Dahulu

Di kota besar seperti Jakarta, di mana banyak penghuni rumah sibuk bekerja, sebaiknya beritahu dulu lewat telepon bila ingin bertamu. Bagi orang yang dikunjungi, ini jadi semacam pemberitahuan, dan dia akan merasa dihargai bila ditanya lebih dulu. Bisa saja pada waktu Anda datang, dia ada acara lain atau tidak mau diganggu tamu. Bagi Anda, akan mendapat kepastian, apakah si penghuni ada di rumah dan siap Anda kunjungi.

3.Tepat Waktu

Bila Anda berjanji datang jam sekian, usahakan tepat waktu. Ini akan memberi kesan yang baik kepada tuan rumah. Dan memudahkan tuan rumah mengatur waktu. Bisa saja ia punya kegiatan yang amat sangat padat, sehingga ketika menyetujui Anda datang pada waktu tertentu, hanya itu waktu yang ia punya untuk Anda.

4.Memilih Waktu Berkunjung

Hendaknya bagi orang yang ingin bertamu juga memperhatikan dengan cermat waktu yang tepat untuk bertamu. Karena waktu yang kurang tepat terkadang bisa menimbulkan perasaan yang kurang baik dari tuan rumah bahkan tetangganya.

5.Tidak Memberatkan Bagi Tuan Rumah

Hendaknya bagi seorang tamu berusaha untuk tidak membuat repot atau menyusahkan tuan rumah, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk tinggal di tempat saudaranya yang kemudian saudaranya itu terjatuh ke dalam perbuatan dosa. Para shahabat bertanya: “Bagaimana bisa dia menyebabkan saudaranya terjatuh ke dalam perbuatan dosa?” Beliau menjawab: “Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.” (HR. Muslim)

6.Meminta Izin Kepada Tuan Rumah

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat.” (An Nur: 27)
“Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An-Nur 27-28)

Rumah itu seperti penutup aurat bagi segala sesuatu yang ada di dalamnya sebagaimana pakaian itu sebagai penutup aurat bagi tubuh. Jika seorang tamu meminta izin kepada penghuni rumah terlebih dahulu, maka ada kesempatan bagi penghuni rumah untuk mempersiapkan kondisi di dalam rumahnya tersebut. Sehingga tidaklah dibenarkan ia melihat ke dalam rumah melalui suatu celah atau jendela untuk mengetahui ada atau tidaknya tuan rumah sebelum dipersilahkan masuk.
Bagaimana Tata Cara Meminta Izin?

a.Mengucapkan salam

Diperintahkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, sebagaimana ayat di atas (An Nur: 27).
Pernah salah seorang shahabat beliau dari Bani ‘Amir meminta izin kepada Rasulullah yang ketika itu beliau sedang berada di rumahnya. Orang tersebut mengatakan: “Bolehkah saya masuk?” Maka Rasulullah pun memerintahkan pembantunya dengan sabdanya: “Keluarlah, ajari orang ini tata cara meminta izin, katakan kepadanya: Assalamu ‘alaikum, bolehklah saya masuk? Sabda Rasulullah tersebut didengar oleh orang tadi, maka dia mengatakan: “Akhirnya Nabi pun mempersilahkannya untuk masuk rumah beliau.” (HR. Abu Dawud)

b.Meminta izin sebanyak tiga kali
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata, Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawab, lalu dia pergi, maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya, “Mengapa kamu kembali?” Dia menjawab, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, Barangsiapa meminta izin tiga kali, lalu tidak ada jawaban, maka hendaklah kembali. (Shahih HR. Ahmad)

7.Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Masuk, Namun Disisi Kanan atau Kirinya

Ketika tamu tiba di depan rumah, hendaknya tidak menghadap ke arah pintu. Tetapi hendaknya dia berdiri di sebelah pintu, baik di kanan maupun di sebelah kiri. Hal ini dicontohkan Rasululloh SAW.Dari Abdulloh bin Bisyer ia berkata,“Adalah Rasululloh SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan”Assalamu ‘alaikum … assalamu ‘alaikum …”(Shahih HR. Abu Dawud)

8.Mengenalkan Identitas Diri

Ketika Rasulullah menceritakan tentang kisah Isra’ Mi’raj, beliau bersabda (artinya) : “Kemudian Jibril naik ke langit dunia dan meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: “Siapa anda?” Jibril menjawab: “Jibril.” Kemudian ditanya lagi: “Siapa yang bersama anda?” Jibril menjawab: “Muhammad.” Kemudian Jibril naik ke langit kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya di setiap pintu langit, Jibril ditanya: “Siapa anda?” Jibril menjawab: “Jibril.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Saya datang kepada Rasulullah untuk membayar hutang ayahku. Lalu aku mengetuk pintu rumahnya. Lalu beliau bertanya, “Siapa itu?” Lalu aku menjawab, “Saya.” Nabi berkata, “Saya?… Saya? … seakan-akan beliau tidak menyukainya. (HR. Bukhari)

9.Dilarang Mengintai Ke Dalam Bilik

Jika kita hendak bertamu dan telah sampai di halaman rumah, tidak diizinkan mengintip melalui jendela atau bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui penghuninya ada atau tidak.
Dari Anas bin Malik, sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi, lalu Nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang untuk menusuk orang itu. (HR. Bukhari)

10.Tidak Masuk Rumah Walaupun Terbuka Pintunya.

Dari ayat 27 An Nuur, sebagaimana telah ditulis di atas, kita baru boleh masuk rumah orang lain harus mendapatkan izin dari pemilik rumah.

11.Bila Diminta Pulang, Hendaknya Pulang

Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (lihat ayat diatas)

12.Menyebutkan Keperluannya

Di antara adab seorang tamu adalah menyebutkan urusan atau keperluan dia kepada tuan rumah. Supaya tuan rumah lebih perhatian dan menyiapkan diri ke arah tujuan kunjungan tersebut, serta dapat mem-pertimbangkan dengan waktu/ keperluannya sendiri. Hal ini sebagaimana Allah mengisahkan para malaikat yang bertamu kepada Ibrahim u di dalam Al Qur’an (artinya): “Ibrahim bertanya: Apakah urusanmu wahai para utusan?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa.” (Adz Dzariyat: 32)

13.Tidak Masuk Bila Yang Mengizinkan Wanita

Seorang tamu pria hendaknya tidak masuk rumah apabila yang mempersilahkan masuk adalah seorang wanita. Kecuali wanita tersebut telah diizinkan oleh suaminya atau mahromnya.
Amr berkata, Rasulullah melarang kami meminta izin untuk menemui wanita tanpa mendapat izin suaminya. (Shahih HR. Ahmad)
Dari Amr bin Al-Ash dia berkata, Sesungguhnya Rasulullah melarang kami masuk di rumah wanita yang tidak ada mahromnya. (Shahih HR. Ahmad)

14.Segera Kembali Setelah selesai Urusannya

Termasuk pula adab dalam bertamu adalah segera kembali bila keperluannya telah selesai, supaya tidak mengganggu tua rumah. Sebagaimana penerapan dari kandungan firman Allah Ta’ala: “…tetapi jika kalian diundang maka masuklah, dan bila telah selesai makan kembalilah tanpa memperbanyak percakapan,…” (Al Ahzab: 53)

15.Tidak Menceritakan Aibnya Kepada Orang Lain

Abu Hurairoh, dia berkata, Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Tahukah kamu apa ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau bersabda, “Ghibah adalah engkau menyebutkan saudaramu (kepada orang lain) dengan sesuatu yang ia benci.” Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila aib yang kuceritakan itu memang benar?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu ceritakan itu benar, berarti kemu meng-ghibah-nya. Jika tidak, berarti engkau berbuat dusta.” (HR. Muslim)

16.Mendo’akan Tuan Rumah

Hendaknya seorang tamu mendoakan atas jamuan yang diberikan oleh tuan rumah, lebih baik lagi berdo’a sesuai dengan do’a yang telah dituntunkan Nabi , yaitu : “Ya Allah…, berikanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau berikan rizki kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.” (HR. Muslim)

Wallahu ‘alam Bishawab

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

Hukum Bersalaman Dengan ( Wanita / Pria ) Bukan Mahram



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Gejala Ikhtilath (percampuran di antara kaum lelaki dengan wanita) semakin dianggap perkara biasa. Mereka saling bersentuhan kulit, bersalaman tangan, bertepuk-tampar, bersenda-gurau, sehingga ada yang berpelukan sesama sendiri tanpa timbul sebarang rasa bersalah. Lebih merisaukan apabila ada yang menganggap bahawa ia tidak termasuk kesalahan di sisi agama. Di antara sebab-sebab perkara ini terus berleluasa mungkin adalah kerana faktor lemahnya iman, budaya persekitaran yang penuh syubhat, terkesan dengan pelbagai adegan filem dan drama, dan ketidak-tahuan mereka terhadap dalil-dalil berkaitan yang menjelaskan persoalan tersebut secara jelas.

Di samping adanya beberapa fatwa meragukan dari tokoh-tokoh tertentu masakini yang mengharuskan bersalaman di antara lelaki dan wanita ajnabiyah (bukan mahram) dalam keadaan tertentu. Ini adalah sebagaimana yang diutarakan dan ditunjukkan antaranya oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi berpandukan beberapa tafsiran dan takwilan yang dikemukakannya. Apa pun, fatwa beliau tersebut wajar ditinggalkan dengan mendahulukan apa yang telah jelas dan bebas dari syubhat sebagaimana ditunjukkan oleh akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya sebagaimana dalil-dalil yang bakal dikemukakan.

Dalil pertama

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لأن يطعن في رأس رجل بمخيط من حديد خير من أن يمس امرأة لا تحل له

“Sekiranya kepala salah seorang daripada kamu ditusuk dengan jarum besi, itu adalah lebih baik bagi kamu daripada kamu menyentuh wanita yang tidak halal bagi kamu.” (Hadis Riwayat ath-Thabrani. Dinilai sahih oleh al-Mundziri, al-Haitsami, dan al-Albani)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Pada hadis ini terdapat ancaman yang keras (tegas) kepada sesiapa sahaja yang menyentuh wanita ajnabiyah (yang bukan mahram). Padanya juga terdapat dalil atas haramnya bersalaman (mushofahah) dengan wanita. Sebab itu, tidak diragukan bahawa bersalaman itu mengandungi unsur bersentuhan. Pada masa ini, umat Islam banyak diuji dengan situasi ini, dan di antara mereka adalah dari kalangan ahli ilmu. Sekiranya mereka mengingkari perkara tersebut dengan hati mereka, tentu ada sedikit kemudahan untuk menasihati mereka. Tetapi sayangnya, mereka menghalalkan perkara tersebut dengan pelbagai cara (jalan) dan takwilan (penafsiran).” (Rujuk: al-Albani, as-Silsilah ash-Shahihah, 1/225)

Dalil Kedua

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Persoalan anak Adam berkaitan zina telah ditentukan. Tidak mustahil ia pasti melakukannya. Dua mata berzina dengan melihat, dua telinga berzina dengan mendengar, lidah berzina dengan berkata-kata, tangan berzina dengan menyentuh, kaki berzina dengan melangkah, hati berzina dengan angan-angan (kehendak), dan kemaluanlah yang akan membenarkan (merealisasikan) atau mendustakan semua itu.” (Sahih: Hadis Riwayat Muslim)

Kaedah pengambilan dalil dari hadis ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah,

وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ

“... dan tangan berzina dengan menyentuh.” (Dari hadis di atas)

Dalam riwayat Ahmad disebutkan,

وَالْيَدُ زِنَاهَا اللَّمْسُ

“... dan tangan berzina dengan menyentuh.”

Dalam riwayat Ibnu Hibban juga disebutkan,

وَالْيَدُ زِنَاؤُهَا اللَّمْسُ

“... dan tangan berzina dengan menyentuh.”

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna hadis di atas adalah bahawa setiap anak Adam itu mungkin ada yang ditakdirkan untuk melakukan perbuatan zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina dengan sebenar-benarnya, iaitu dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan wanita secara haram. Di antara mereka ada yang zinanya secara majaz (kiasan), iaitu dengan melihat perkara-perkara yang haram, atau dengan mendengar sesuatu yang mengajak kepada perzinaan dan usaha-usaha untuk melakukan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan, atau menyentuh wanita ajnabiyah (yang bukan mahram) dengan tangannya, atau menciumnya. Atau dengan melangkah kaki menuju tempat perzinaan, melihat, menyentuh, atau berkata-kata dengan cara yang haram bersama dengan wanita ajnabiyah (yang bukan mahram), atau berangan-angan (imaginasi atau berniat) dengan hatinya. (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 16/206)

Dalil ketiga

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah bersalaman dengan wanita yang bukan mahram baginya walaupun dalam perlaksanaan proses bai’at. Secara umumnya tuntutan proses ini berlaku dengan cara bersalaman, iaitu apabila dilakukan di antara Nabi dengan para sahabat lelaki yang lain.

Umaimah Binti Ruqaiqah menyatakan,

أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في نساء لنبايعه، فأخذ علينا ما في القرآن: { أَنْ لا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا } الآية، وقال: "فيما استطعتن وأطقتن"، قلنا: الله ورسوله أرحم بنا من أنفسنا، قلنا: يا رسول الله، ألا تصافحنا؟ قال "إني لا أصافح النساء، إنما قولي لامرأة واحدة كقولي لمائة امرأة

“Aku pernah pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersama beberapa orang wanita untuk melakukan bai’at (perjanjian taat setia) kepada beliau. Maka beliau pun membai’at kami dengan apa yang terdapat dalam al-Qur’an, iaitu kami tidak boleh mensyirikkan Allah dengan segala sesuatu. Lalu beliau bersabda, “Iaitu berkenaan dengan apa yang kamu mampu dan sanggupi.”

Maka kami pun berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih menyayangi kami daripada diri kami sendiri.” Seterusnya kami bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita perlu bersalaman?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita. Ucapanku kepada seorang wanita bersamaan dengan untuk seratus orang wanita.” (Sahih: Hadis Riwayat Ahmad)

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syanqithi rahimahullah berkata, “Bahawasanya telah tsabit daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan kaum wanita.” Dan Allah telah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu contoh tauladan yang baik.” Dengan itu, demi untuk mencontohi (mengikuti) beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka kita tidak bersalaman tangan dengan wanita ajnabiyah... dan sikap beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang tidak bersalaman tangan dengan wanita di ketika melakukan bai’ah adalah merupakan dalil yang sangat jelas bahawa seseorang lelaki tidak boleh bersalaman tangan dengan wanita yang bukan mahramnya dan tidak dibenarkan sama sekali dari anggota badannya menyentuhnya. Ini adalah kerana bentuk sentuhan yang paling ringan adalah dengan bersalaman. Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri enggan untuk bersalaman dengan wanita ajnabiyah di ketika waktu-waktu yang sangat diperlukan untuk bersalaman iaitu di ketika waktu berbai’ah, maka ini menunjukkan bahawa bersalaman tangan dengan kaum wanita ajnabiyah adalah tidak dibenarkan. Sesiapa pun tidak wajar untuk menyelisihi beliau. Kerana beliau adalah yang menetapkan syari’at untuk umat beliau sama ada dengan ucapan, perbuatan, ataupun pembenaran (taqrir).” (al-Amin asy-Syanqitihi, Adhwa’ul Bayan fii Idhahal Qur’an bil Qur’an, 6/256)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Perkataan (suara) wanita ajnabiyah boleh kita dengari apabila ada keperluan, dan suaranya tidak termasuk aurat (apabila tidak berlebih-lebihan – pent.). Menyentuh kulit wanita ajnabiyah tidak dibolehkan tanpa adanya alasan darurat seperti sebab perubatan, pendarahan, bekam, mencabut gigi, dan seumpamanya, di mana apabila tiada wanita yang boleh melakukannya. Maka pada ketika itu lelaki yang bukan mahram dibenarkan melakukannya atas faktor keterpaksaan tertentu.” (Imam an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 13/10)

Beliau juga berkata, “Disebabkan melihat wanita yang bukan mahram itu diharamkan (terdapat perintah menundukkan pandangan – pent.), sudah tentu menyentuh kulitnya lebih diharamkan lagi. Ini adalah kerana menyentuh lebih mudah membangkitkan syahwat.” (Imam an-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiin, 7/27)

Demikianlah antara dalil-dalil utama dan penegasan para ulama ahlus Sunnah wal-jama’ah dalam persoalan hukum bersentuhan kulit (termasuk bersalaman) di antara lelaki dengan wanita bukan mahram yang disengajakan. Sama ada berlapik atau bersarung tangan, maka ia tetap terlarang. Tidak pernah pula dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Walau bagaimanapun, bersalaman atau bersentuhan di antara suami dengan isteri adalah dibenarkan walaupun dalam keadaan berwudhu’ dan tidak terbatal wudhu’ mereka. Semoga kita selaku umat Islam diberikan kemudahan untuk memahami persoalan ini dengan baik. Sekiranya bersalaman dan bersentuhan pun termasuk perkara yang terlarang, fikirkanlah yang melampau dari itu!

Wallahu ‘alam Bishawab

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

My Blog List

Pages

Pages - Menu

Followers

Become our Fan

The Amazing of Islam
SEBELUM MEMBACA UCAPKANLAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM, ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA'ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD !!